Sadar dan Berpikir

Secara neuroscience, otak kita selalu aktif (intrinsic brain activity). Ia secara otomatis bekerja ketika nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan cukup, dan menariknya, proses ini tak selalu memerlukan stimulus dari luar*

Namun demikian, Berpikir tak berarti Sadar. 

Gambar oleh Prottoy Hassan dari Unsplash

Sadar merupakan kondisi di mana kita melihat dan mengalami segala sesuatunya seperti apa adanya. Pada saat berpikir, seringkali kita menanggapi banyak hal dengan beban masa lalu, dan menolak apa yang ada. Berkesadaran adalah berlatih dan berserah dengan berjarak dari pikiran, karena pikiran kita bukanlah kita. 

Menyelesaikan masalah dalam kondisi tidak Sadar misalnya, bisa berarti menjaga nama baik kita, atau menyembunyikan kita, atau tujuan lain yang sebenarnya tidak menyelesaikan masalah. Terkadang, bahkan menambah masalah itu sendiri. Dalam contoh tadi, peran ego sangatlah kental. Ego, kesayaan, atau keakuan, memang senantiasa melingkupi kita. Dengan Berkesadaran, kita berlatih peka akan kehadiran ego tersebut, sehingga jernih menyikapinya. 

Tentunya ini tidak berarti kita tidak boleh berpikir. Pikiran senantiasa datang dan pergi, Berkesadaran membantu kita untuk menyadarinya, karena tidak semua hal memerlukan pikiran. Menikmati teh di sore hari, mengapresiasi musik, ataupun merasakan mentari di pagi hari, adalah beberapa contoh nyata yang tidak membutuhkan pikiran. Bahkan ada juga proses yang ketika kita berpikir, kita sulit melakukannya, misalnya ketika kita perlu tidur. 

Bisakah kita berpikir ketika perlu, di mana pikiran adalah pembantu, dan bukan penentu. 

Berkesadaran melatih kita untuk peka akan hadirnya pikiran, menyadarinya, dan menerimanya, tanpa menggenggam, tanpa menghempas. Dalam aktivitas keseharian, Berkesadaran akan membantu kita untuk memilih mana pikiran yang perlu diakui kehadirannya tanpa melakukan apapun, mana yang perlu ditindaklanjuti segera, mana yang bisa ditunda, mana yang perlu dilengkapi, mana yang perlu diverifikasi, dan sebagainya. Kita tidak serta merta bereaksi terhadap semua pikiran yang hadir. 

Kemampuan ini akan tertempa, seiring kian giat kita berlatih Berkesadaran.

*  Barrett, L. F. (2016). How emotions are made: The new science of the mind and brain. Place of publication not identified: Houghton Mifflin Harcourt.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s