Metode dan Non-Metode

Dalam hidup, kita dibiasakan untuk mengukur, untuk membandingkan, untuk bernalar, dan untuk aktif melakukan. Hampir semua pembicaraan dan kehidupan kita terkait akan hal-hal tersebut.

Gambar oleh Jeremy Perkins dari Unsplash

Orang sering bertanya, apa ukuran keberhasilan kamu – yang sepertinya  memerlukan ukuran.  Atau siapa yang terbaik – yang memang perlu terukur  agar dapat dibandingkan. Atau juga kita sering mendengar, pikir dulu dong, jangan main langsung bertindak saja. Dan kita juga sering berslogan – kalau bukan kita yang mengubahnya, siapa lagi – yang berarti kita perlu aktif melakukan semuanya.

Ya, ukuran-ukuran, penyamarataan – sehingga bisa membandingkan, penggunaan pikiran dalam mengambil keputusan, serta sikap bahwa kita perlu aktif bertindak, sudah sangat mendarah daging. Konsep ini ada dimana-mana, di pendidikan, di rumah, di kantor, dengan berbagai konteksnya. Kita menyebut hal-hal ini sebagai Metode. Akal adalah dasar kita ber-Metode.  

Namun, ketika kita menelisik lebih dalam, ada hal-hal yang bukan termasuk Metode. Tidak semua bisa diukur, namun perlu dirasa. Bagaimana mengukur kelezatan makanan atau indahnya lukisan? Hal lainnya adalah tidak semua bisa dibandingkan, misalnya enak mana, apel atau jeruk? Dan tidak semua proses menjalani kehidupan bisa dinalarkan. Karenanya orang tua seringkali berpesan, hati-hati di jalan ya, bukan pikir-pikir di jalan. Kita menyebut hal-hal ini sebagai Non-Metode. Budi adalah dasar kita ber Non-Metode.

Ketika kita Berkesadaran, maka kitapun tidak terjebak bahwa di tempat, saat, dan peran tertentu kita hanya bisa berMetode saja atau ber Non-Metode saja. Seringkali, keduanya diperlukan sekaligus. Kita sudah sering mendapatkan bahwa, misalnya, teknologi bukan saja dipikirkan dan diukur, namun juga perlu disajikan melalui desain yang lebih mudah untuk dirasakan. Teknologi bukan saja digunakan, tapi dialami. 

Metode dan Non-Metode adalah paradoks, diperlukan sekaligus dalam perjalanan hidup kita. Akal-budi, demikian orang-orang dahulu mengatakannya, mengingatkan kita bahwa Metode dan Non-Metode, diperlukan. Berkesadaran akan membuat kita terlatih untuk menjalani paradoks ini, terjalin tanpa melekat akan keduanya, serta arif menjalankannya. Dengan kata lain, Berkesadaran adalah pintu untuk berakal-budi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s