Spektrum Keberadaan

Gambar oleh Kharim Ghantous dari Unsplash

Terkadang keberadaan saya sepertinya hampa.
Kehidupan tak pernah peduli akan saya.

Adakalanya pula keberadaan saya seperti ditimpakan pada saya.
Kehidupan terjadi karena saya tidak berdaya.
Dan saya tidak bisa memilih.

Sering kali keberadaan saya serasa untuk saya.
Kehidupan adalah hak saya.
Dan karenanya saya sibuk menjaga keterbatasan dan kelangkaan.

Berkali-kali pula keberadaan saya tampak perlu saya.
Kehidupan membutuhkan saya untuk bisa terjadi.
Sayalah pahlawannya, karena kalau bukan saya, siapa lagi?

Sering kali keberadaan saya tampaknya oleh saya.
Kehidupan hanya bisa terjadi, karena kemampuan saya.
Sayalah yang memperjuangkan segalanya.

Sewaktu-waktu keberadaan saya tampaknya bersama saya.
Kehidupan berlangsung karena saya bekerja sama dengan yang lain.
Namun saya sibuk berhitung dan memastikan hak dan kewajiban saya dan mereka.

Berkesadaran mengingatkan bahwa keberadaan saya bukan saya.
Kehidupan melalui saya.
Kian saya berselaras, kian leluasa Kehidupan menjadikan saya pintu.
Kian saya tiada, kian leluasa Kehidupan berekspresi.

Ketiadaan, bukan hampa.

Dari Sepertinya ke Sejatinya

Gambar oleh Eberhard Grossgasteiger dari pexels.com

Sepertinya,
tujuan hidup adalah untuk
menyadari & memekarkan anugerah. 

Sepertinya, 
makna hidup adalah untuk
menebarkan & melepaskannya.

Disebut sepertinya, 
karena kita menginterpretasikan yang Absolut,
bukan mengabsolutkan interpretasi.

Namun sepertinya, bisa menjadi sejatinya.

Ketika izin itu hadir, bagi yang berkesadaran,
yaitu mereka yang berlatih dan sekaligus berserah,
untuk menuju kondisi seapa-adanya,
namun tak pernah seadanya.

Berkesadaran, 
karena ketiadaan, bukanlah kehampaan.

Berkesadaran

Gambar asli oleh Markus Spiske dari Pixabay, diedit oleh Siska

Sekali lagi, ini bukan kata baku dalam bahasa Indonesia. Namun, makna yang ingin disampaikan oleh kata Berkesadaran adalah suatu pola berlatih dan berserah sekaligus untuk tiba dalam kondisi Sadar. Dalam berkesadaran, hidup itu dijalani, bukan dijalankan, dengan jernih seapa-adanya, bukan buram seadanya. 

Seadanya lebih dikenal dengan istilah auto-pilot – suatu pola yang menguntungkan pengelolaan energi oleh otak kita, karena menganggap bahwa apa yang sudah pasti akan terjadi lagi. Kita semua, semoga, sudah belajar bahwa yang lalu tidak bisa dijadikan dasar, karena berbagai alasan. Pertama, apa yang kita ingat belum tentu apa yang sebenarnya terjadi. Kedua, apa yang kita pikir hikmah dari yang sudah, juga belum tentu satu-satunya pembelajaran yang bisa kita petik. Yang lalu memang sudah terjadi, tetapi tentang apa yang sebenarnya terjadi dari yang lalu dan apakah pembelajaran dari yang sudah terjadi itu sejatinya merupakan suatu spektrum makna yang maha luas. 

Untuk mendekati – dan ketika anugerah itu hadir sehingga kita bisa mencapai – kondisi yang sebenarnya (Sadar) memang memerlukan Berkesadaran. Sekali lagi, ini bukan transaksi yang bersifat sebab dan akibat. Karenanya Berkesadaran tidak akan pernah bisa memastikan Sadar. Ya, Sadar adalah anugerah. 

Berkesadaran mengakui batas-batas kemanusiaan kita, karenanya Berkesadaran akan memilah antara yang biasanya, dan yang tidak biasanya, antara yang perlu dan yang ingin, antara opsi dan distraksi. Karenanya Berkesadaran meminta kita untuk berlatih berjeda. Berjeda melalui latihan duduk diam di setiap harinya. Juga berjeda tiga nafas sebagai antara dari satu kegiatan keseharian kita ke aktivitas keseharian yang lain. Dan juga berjeda dengan berjarak dengan sambil, memilih satu dengan keparalelan kegiatan, yang bagi sebagian didewa-dewikan atas nama efisiensi. 

Sambil adalah ketidakmampuan untuk memilih. Dan berjarak dengan sambil adalah menghormati pilihan. Sehingga makan hanya makan, tidak sambil melihat gawai kita, sehingga menjawab surat elektronik (email) tidak sambil makan, dan lain sebagainya. Sederhana saja, kitapun tak mau menjadi obyek sambilan dari orang lain ketika orang tersebut sedang bersama kita kan?  

Berkesadaran juga mengajak kita untuk berjalan lebih dalam. Kita menghormati pilihan kita karena itulah perilaku yang pertama kali, dan sekaligus terakhir kali. Pertama kali karena semuanya selalu baru, dan terakhir kali karena kita tak pernah bisa mengulanginya lagi di situasi dan kondisi yang persis sama.

Sadar & Berkesadaran

Gambar oleh Maxime Valcarce dari Unsplash

Sadar sering diasosiasikan dengan bangun. Namun Sadar bukan sekadar bangun, karena bisa saja ketika kita bangun, kita tidak menyadari apa yang kita alami. Pernahkah kita pergi ke tempat yang sering dikunjungi, kantor misalnya, namun kita tidak mengalami apapun dari jalan-jalan yang kita lalui? Itulah bangun, yang tidak sadar. 

Sadar juga sering dikonotasikan dengan berpikir. Kalau kita berpikir, berarti kita sadar, demikian pendapat sebagian dari kita. Sadar bukanlah kondisi ketika kita mampu berpikir, karena sebagian besar pikiran adalah hasil dari kemampuan otak untuk melakukan prediksi atas apa-apa yang pernah kita alami sebelumnya. Itu sebabnya autopilot menjadi jauh lebih mudah, dan itu pula sebabnya kita sering memberikan label yang baku kepada sifat maupun kemampuan orang lain, walaupun orang tersebut bisa saja sudah berubah. Kondisi yang memberikan praduga berdasarkan pengalaman masa lalu ini adalah contoh sederhana berpikir yang tidak disadari. 

Sehingga Sadar bukanlah bangun, bukanlah berpikir. Ia adalah sebuah kondisi, dan semua kondisi adalah anugerah. 

Sebagai anugerah, Sadar bukan hasil upaya. Ia bukan sesuatu yang bisa kita buat metodenya dan memberikan jaminan bahwa ia akan bisa tercapai kalau metode itu kita lakukan dengan baik dan benar. Dengan kata lain, Sadar bukan hasil transaksional, karena memang tak bisa dihitung-hitung. Kondisi Sadar selalu diberikan, bukan dipastikan. 

Untuk memudahkan memahami konsep ini, mari kita lihat sehat. Sehat adalah kondisi. Namun ia tak pernah bisa dipastikan. Semua olahragawan bisa dan pernah sakit, banyak ahli nutrisi pernah jatuh sakit, dan semua yang bergaya hidup sehat, tak luput dari kondisi tidak sehat. Ya, sehat adalah kondisi – sesuatu yang tak bisa dipastikan, ia hanya bisa didekati. 

Seperti halnya  sehat, definisi kondisi Sadar tak terbatas dan tak pernah definitif. Sadar adalah anugerah yang hadir tanpa memerlukan sebab. Sadar tak bisa diceritakan dengan lengkap oleh kata, tak bisa digambarkan secara menyeluruh oleh lukisan, dan tak bisa dideskripsikan secara total melalui nada. Definisi paling dekat yang sedikit menggambarkan Sadar adalah kondisi yang dialami dengan seapa-adanya. 

Seapa-adanya merupakan anugerah tanpa transaksi. Sepi dari persepsi. Senyap dari yang sudah. Sunyi dari yang belum.Tak melekat pada apapun. Hanya murni berada.

Sadar bisa didekati, walaupun – sekali lagi – tak pernah bisa dipastikan pencapaiannya. Mendekati sadar adalah dengan melalui Berkesadaran. Kata ini bukan kata baku dalam bahasa Indonesia, namun ia menggambarkan proses berlatih dan sekaligus berserah untuk mencapai kondisi Sadar. Dalam istilah yang lebih populer, Berkesadaran dikenal sebagai Mindfulness

Berkesadaran memiliki dua proses yang berjalan sekaligus. Ia menunjukkan upaya berlatih, yang memerlukan ketekunan, dan membutuhkan pola-pola tertentu. Namun ia juga sekaligus menunjukkan keberserahan, karena upaya berlatih ini bukan untuk memastikan, namun dilakukan dengan segala kerendahan hati untuk tanpa pamrih. 

Berkesadaran adalah perjalanan, yang panjang pendeknya tidak bisa kita ketahui saat ini, dan memang bukan untuk diketahui. Perjalanan ini adalah perjalanan mengalami. Mengalami dengan jernih seapa-adanya, namun tak pernah seadanya.

Monkey Mind and I

The sky is clear and unaffected by what is happening.
The clouds come and go,
the winds come and go,
so does the rain and sunlight,
but the sky remains clear.”
~ Joseph Goldstein

Try to sit still, do nothing and not think about anything at all for a few minutes or so. An average person will soon find the mind start wandering. Sometimes, the mind seems to have specific issues to grasp. Some other times it just hops on and off, from one thought to another. Just like monkeys, the mind incessantly jumps from one branch of thought to another. So, we call this mind monkey mind.

Now suppose we were to spend these same few minutes in a practice called meditation. It is generally being taught that meditation equals to focusing our mind only on our breaths and nothing else, which is supposed to be very calming. Unfortunately, this idea about meditation does not correspond to our reality of monkey mind, and this can easily frustrate anyone who try to learn to practice meditation.

What is not being as often discussed is that the meditation practice is a practice where we keep on returning the mind to our object of awareness, be it breaths or anything else. The calming focused mind is the meditative state resulting from the practice, and not the practice itself. It takes practice to arrive into the calming focused mind.

Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash
Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

For many of us, monkey mind drives us mad for two main reasons.

First, it is because we would like the mind not to be “monkey-ish”, while in reality it IS a monkey mind – the mind that just would not obey our demand to be calm and still. So, there is internal conflict between what we want and what it is.

Most of us do not realize that how lively that monkey mind is depends on how busy and agitated we have been during the day as well as how little real rest we allow ourselves. Our agitation and activities energize the monkey. If we wish for the monkey not to jump around so much, then we should remember not to jump around so much either. And yes, that includes not to jump around from one social media posting to another.

What do we then do with monkey mind? First and most important, Stop telling the monkey to sit still, because being still is simply what monkey mind does NOT do. Instead, we can practice being a passive observer. We observe whatever comes into our mind, be it good or bad, the way we observe monkey jumping from one branch to another. Being an observer, we do not jump around with the monkey, nor do we get upset about which branch the monkey chooses to land on. We passively observe until the monkey gets tired, or it runs out of branches to hop on, and it will eventually stay still. As will our mind.

I suppose this is why there is an old Zen proverb that says something like “You should sit in meditation for twenty minutes every day – unless you’re too busy; then you should sit for an hour”.

Sometimes the monkey is over-excited that it overwhelms us. In times like these, give the monkey something to do for a while, like counting the breaths, or regulating the breaths in certain rhythm. Practices with breaths are usually calming, that it is easier for us to go back to being an observer again afterwards.

Second, if we happen to have certain issues that are gnawing deep within, the monkey, for whatever reasons, tends to linger around these issues despite our dissent. In times like these, meditation is more of an agitating practice than calming one.

During such episodes, apart from being a passive observer, it also helps to be a good friend to the monkey mind. Most of the judging self-critical thoughts we have towards our own thoughts and emotions, the aversions we have towards our state of mind, would not be anything that we would do or say to a good friend. A good friend is kind, and being kind means being understanding, accepting and encouraging – full of compassion.

So, we do no different towards the monkey mind. Let it jump around, and talks incessantly and tells us stories we do not want to hear, fears we try to hide away, grieves we refuse to let go. We let the monkey mind do so with an open heart that is understanding and full of compassion, despite of temptations from time to time to jump after the monkey mind, or to grab its tail and try to make the monkey stay quiet. Instead, we stay put and be at peace with it. And that, for what it is worth, is the practice of meditation.

As we give our friend, the monkey mind, a space, to be still or to jump around, we learn so much about it, as much as we learn about our being. In this understanding, we can be more at peace with ourselves, anytime anywhere.

“How shall I help the world?”
“By understanding it,” said the Master.
“And how shall I understand it?”
“By turning away from it.”
“How then shall I serve humanity?”
“By understanding yourself.”
~ Anthony de Mello

Our Contemplations ~