Duduk Bersama Tubuh

Gambar oleh Vanessa Kintaudi dari Unsplah

Duduklah dengan nyaman, seperti ketika berlatih Duduk Diam.

Rasakan, bukan bayangkan, tubuh,
Satu demi satu bagian.

Jika tidak terasa, sebaiknya disentuh dengan tangan agar benar-benar terasa.

  • Rasakan bagian-bagian tubuh, dimulai dari ubun-ubun, dahi, kedua bola mata, hidung, bibir, kedua pipi, kedua daun telinga, belakang leher, kedua bahu, kedua lengan, kedua tangan.
  • Lalu rasakan dada, perut atas, perut bawah, seluruh punggung
  • Kemudian rasakan panggul dan bokong, kedua paha, kedua betis, kedua kaki.

Ulangi kembali dari ubun-ubun.

Lakukan setiap hari selama 5 menit, atau selama yang dapat dilakukan, meskipun jika yang dapat dilakukan adalah 1 menit atau 10 menit.

Lihatlah Ke Dalam

Gambar oleh Kenzie Kraft dari Unsplah

Hidup kadang menghadirkan orang yang menjengkelkan, dan orang menjengkelkan ini tidak kunjung pergi dari keseharian kita. Latihan kita kali ini adalah mencatat setiap hal yang muncul dalam benak kita setiap kali sedang berbicara dengannya (lisan ataupun tertulis, langsung ataupun tidak langsung).

Coba perhatikan – mana yang lebih menjengkelkan:

  • apa yang diucapkan/dilakukan oleh orang tersebut,
    atau
  • apa yang kita pikirkan tentang ucapan dan kelakuannya?

Coba perhatikan juga – benarkah orang menjengkelkan itu ada?

Atau orang menjengkelkan hanya ada dalam batin kita yang sedang jengkel?

Kita adalah Cerita Kita

Gambar oleh Nong Vang dari Unsplash

Sadar atau tidak, 
kita adalah cerita kita.
Cerita kita bisa menjadi pesan, 
bisa menjadi ilmu, 
tanpa perlu harus menjadi.

Bagi kita.
Bagi yang lain.

Bagaimana kita bercerita dalam Sadar?
Dengan tidak bercerita.
Namun menjalani.
Sambil mengalami.

Bagaimana kita bercerita dalam Sadar?
Dengan Berkesadaran.
Menjalani sambil berlatih.
Menjalani sambil berserah.

Bagaimana kita bercerita dalam Sadar?
Dengan peduli jernih seapa-adanya.
Bukan dengan acuh buram seadanya.

Bagaimana kita bercerita dalam Sadar?
Dengan bertanya, tanpa mempertanyakan
Dengan menjalani pertanyaan.
Untuk terlepas ketika ikhlas tersadari.

Bercerita tak selalu perlu kata.
Bercerita tak juga harus gempita.
Karena sunyi juga peduli.
Karena hening itu esensi.

Duduk Diam Saja

Gambar oleh A.Debus dari Pixabay

Latihan Duduk Diam adalah salah satu latihan dasar dalam Mindfulness (Berkesadaran). Seperti namanya, yang kita lakukan dalam latihan ini adalah duduk dan diam. Diam dan hanya diam.

  • Duduklah dengan nyaman, apapun sikap duduk yang dipilih, di tempat duduk apapun.
  • Tegakkan punggung, namun tidak tegang.
  • Tidak bersandar di manapun.
  • Tidak bergerak sama sekali, secara fisik dan batin, tanpa upaya untuk menghibur (entertain) batin dengan apapun, termasuk berpikir-pikir, menganalisa, berkontemplasi atau apapun.
  • Sadari apapun yang terasa dan/atau terpikirkan selama Duduk Diam.

Lakukan setiap hari selama 5 menit, atau selama yang dapat dilakukan, meskipun jika yang dapat dilakukan adalah 1 menit atau 10 menit.

Jika memungkinkan, lakukan di waktu dan tempat yang sama.

Jeda Tiga Nafas

Jeda Tiga Nafas merupakan jeda yang kita lakukan dengan benar-benar mengalami tiga nafas kita.

Seringkali, latihan ini diartikan sebagai mengambil nafas dengan sengaja sebanyak tiga kali. Namun menarik nafas sebanyak tiga kali dengan sengaja tidak sama dengan mengalami tiga nafas. Kita bernafas tanpa perlu berupaya, sedemikian sehingga kita jarang menyadari nafas kita dan bahkan, merasa sulit ketika diminta untuk memperhatikan nafas selama beberapa waktu.

Gambar oleh Christelle Prieur dari Pixabay

Mengalami nafas berarti merasakan nafas seperti apa adanya, mengalami nafas kita yang tidak persis sama dari satu nafas ke nafas berikutnya, bernafas seperti apa adanya, tanpa perlu mengubah cara ataupun sensasi nafas yang kita alami.

Ketika kita mengalami nafas seperti apa adanya selama tiga nafas, itulah Jeda yang kita berikan kepada diri sendiri dan sekitar kita, selama tiga nafas.

Jeda Tiga Nafas ini adalah salah satu latihan dalam Berkesadaran yang paling praktis karena dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Mata boleh ditutup, boleh dibuka. Postur tubuh boleh sedang duduk, berdiri, ataupun berbaring. Dilakukannya bisa ketika menunggu meeting mulai, menunggu lampu merah berubah menjadi hijau, menunggu panggilan telpon kita diangkat oleh penerima telpon, ataupun di saat-saat kita perlu berjeda sejenak.

Latihan sederhana ini memberikan kita kesempatan untuk memutus rantai pikiran kita yang sangat cepat dan melelahkan, juga memberikan kita ruang bagi sedikit kejernihan dalam batin sebelum memulai ataupun melanjutkan aktivitas apapun.”

Adopt the pace of nature. Her secret is patience.
“Melangkahlah selaras dengan alam. Kesabaran adalah rahasianya.”
~ Ralph Waldo Emerson