Yoga Nidra

Yoga Nidra merupakan salah satu bentuk latihan Berkesadaran yang dapat dilakukan sebagai latihan tersendiri, maupun latihan yang menemani Duduk Diam.

Gambar oleh Corina Ranier dari Unsplash

Kalau mendengar kata Yoga, sebagian dari kita mungkin langsung teringat tentang berbagai postur melipat-lipat tubuh. Kata Yoga sebetulnya berarti union atau penyatuan. Sementara kata Nidra berarti tidur. Jadi Yoga Nidra adalah  seni tidur yang Sadar. Secara tradisional, Yoga Nidra juga dikenal sebagai tidurnya para yogi.

Secara sederhana, cara berlatih Yoga Nidra adalah berupaya menjaga kesadaran tepat di antara tidur dan bangun. Kita berlatih  agar batin kita serileks ketika tidur, tetapi tetap terjaga sehingga dapat mendengarkan panduan. Seringkali yang terjadi ketika kita berlatih Yoga Nidra adalah kita tertidur, lalu terbangun, lalu tertidur, lalu terbangun – atau tertidur dari awal hingga akhir. 

Terkadang dalam latihan Yoga Nidra, kita tertidur dari awal hingga akhir. Ini tidak mengapa,  karena bawah sadar kita tetap mendengarkan sehingga kita tetap sudah berlatih. 

Sebenarnya, pola-pola ini mirip dengan kehidupan kita ketika berlatih Sadar. Terkadang kita tersadar, lalu tak sadar, lalu sadar bahwa kita tak sadar, dan kembali sadar, demikian seterusnya. Atau terkadang sesuatu yang kita alami, walaupun kita tidak aktif mendengarkan melalui telinga, masuk ke dalam alam bawah sadar kita melalui keberadaan kita. 

Yoga Nidra merupakan salah satu latihan dalam Berkesadaran karena latihan ini melatih  kondisi batin yang paling rileks dalam keadaan terjaga. Batin yang rileks, bukan batin yang malas, adalah batin yang lapang sehingga tidak reaktif, cenderung tenang sehingga lebih jernih merespon, karena senantiasa terjaga. Dalam kondisi ini, emosi yang cenderung mengganggu seperti marah, kesal dan cemas tetap hadir, namun tidak akan menyelimuti dan membutakan sikap kita. 

Beberapa penelitian menemukan bahwa Yoga Nidra yang rutin dilakukan juga membantu memperbaiki kualitas tidur, mengurangi dampak stres dan trauma, serta memberikan beberapa manfaat kesehatan lainnya. Penelitian juga menemukan bahwa kualitas istirahat otak selama 30 menit dalam relaksasi Yoga Nidra, sama dengan istirahat yang didapat dalam 2 jam tidur lelap (deep sleep). 

Tentunya ini semua adalah efek turunan saja, dan bukan tujuan utama Yoga Nidra. Yoga Nidra, Yoga dan seluruh latihan Berkesadaran, memiliki tujuan yang sama dengan aktivitasnya. Jadi tujuan beryoga adalah beryoga, tujuan berYoga-Nidra adalah Yoga Nidra, tujuan Berkesadaran adalah Berkesadaran. Kita Berkesadaran bukan untuk bertransaksi.

Yoga Nidra dapat dilatih kapan pun dirasa perlu untuk rileks, atau digunakan sebelum kita berlatih Duduk Diam. 

Berbeda dengan pola-pola Berkesadaran lainnya, Yoga Nidra memerlukan narasi yang perlu dilakukan oleh orang lain. Siniar (podcast) Panduan Berkesadaran adalah salah satu opsinya. 

Dan sebagaimana Duduk Diam, Yoga Nidra, Yoga sebagai bagian dari Berkesadaran adalah latihan, bukan konsep. Selamat berlatih.

Asah

Berkesadaran memerlukan Amati dan Alami. Keduanya, perlu kita Asah.

Gambar oleh Yoann Boyer dari Unsplash

Orang yang menyebut dirinya berpengalaman sebenarnya adalah orang yang menyadari keberadaannya. Ia senantiasa mengasah amati dan alami. Ia mengasah kepekaan, keterjalinan, dan kearifan dalam mengamati dan mengalami. Ia berkesadaran di setiap waktu, tempat, dan perannya. Pengalaman, bukan peristiwa dari masa lalu – ia adalah kondisi di setiap momennya. 

Agar kita benar-benar mengasah amati dan alami, kita memerlukan kepekaan – sikap untuk menyadari kondisi keberadaan dalam bentuk sensasi yang dialami melalui nafas, tubuh, pikiran, dan perasaan. Tanpa mengasah amati dan alami, maka yang bisa  terjadi adalah ketidakpekaan – ketidaktahuan kita akan perubahan ritme nafas kita, sensasi yang terjadi di tubuh, serta pikiran dan perasaan yang masuk. 

Ketidaktahuan ini, akan terjadidalam keseharian kita. Kian kita tidak peka, kian kita tidak sadar bahwa sikap, tutur, interaksi maupun keputusan yang kita ambil tidak jernih terjadi. Rasa kesal kita terhadap satu peristiwa, dapat mempengaruhi sikap kita terhadap orang lain yang tak ada hubungannya dengan peristiwa tersebut. Atau rasa bahagia kita terhadap suatu momen, dapat menjadi euforia yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan kita di situasi yang tidak ada hubungannya

Dengan melatih kepekaan, kita berlatih memilih respon kita dengan lebih jernih, di setiap momennya

Tentunya kepekaan tidak berarti sensitif dalam makna yang sering kita pergunakan dalam keseharian. Sensitif – biasa dikatakan sensi –  dalam makna keseharian adalah kita jadi larut dalam kondisi, sehingga mudah tersinggung dan memberikan ekspresi yang tidak perlu. Dengan berlatih kepekaan, yang terjadi adalah yang sebaliknya, kita menyadari akan obyek-obyek yang hadir ke dalam keberadaan kita, sehingga bisa memilih mana yang perlu ditindaklanjuti, mana yang dibiarkan hadir untuk berlalu. 

Kepekaan-kepekaan ini kita asah, bukan saja untuk menyadari keberadaan kita di setiap momen, namun membantu kita untuk membawakan diri kita dalam kehidupan ini. Sehingga misalnya, kepekaan yang terasah melalui latihan, akan membantu kita menyadari passion dan purpose, termasuk tidak melekat dengan passion dan purpose kita. 

Kepekaan tidak terbatas pada keberadaan sendiri. Ia juga berarti jernih melihat situasi di luar keberadaan kita, orang-orang di sekitar kita, obyek di sekitar kita, ingatan kita, dan cara kita melihat ke depan. Lebih jauh lagi, kepekaan akan menyadari bahwa kita dan sekitar kita tidak terpisahkan.

Berkesadaran

Gambar asli oleh Markus Spiske dari Pixabay, diedit oleh Siska

Sekali lagi, ini bukan kata baku dalam bahasa Indonesia. Namun, makna yang ingin disampaikan oleh kata Berkesadaran adalah suatu pola berlatih dan berserah sekaligus untuk tiba dalam kondisi Sadar. Dalam berkesadaran, hidup itu dijalani, bukan dijalankan, dengan jernih seapa-adanya, bukan buram seadanya. 

Seadanya lebih dikenal dengan istilah auto-pilot – suatu pola yang menguntungkan pengelolaan energi oleh otak kita, karena menganggap bahwa apa yang sudah pasti akan terjadi lagi. Kita semua, semoga, sudah belajar bahwa yang lalu tidak bisa dijadikan dasar, karena berbagai alasan. Pertama, apa yang kita ingat belum tentu apa yang sebenarnya terjadi. Kedua, apa yang kita pikir hikmah dari yang sudah, juga belum tentu satu-satunya pembelajaran yang bisa kita petik. Yang lalu memang sudah terjadi, tetapi tentang apa yang sebenarnya terjadi dari yang lalu dan apakah pembelajaran dari yang sudah terjadi itu sejatinya merupakan suatu spektrum makna yang maha luas. 

Untuk mendekati – dan ketika anugerah itu hadir sehingga kita bisa mencapai – kondisi yang sebenarnya (Sadar) memang memerlukan Berkesadaran. Sekali lagi, ini bukan transaksi yang bersifat sebab dan akibat. Karenanya Berkesadaran tidak akan pernah bisa memastikan Sadar. Ya, Sadar adalah anugerah. 

Berkesadaran mengakui batas-batas kemanusiaan kita, karenanya Berkesadaran akan memilah antara yang biasanya, dan yang tidak biasanya, antara yang perlu dan yang ingin, antara opsi dan distraksi. Karenanya Berkesadaran meminta kita untuk berlatih berjeda. Berjeda melalui latihan duduk diam di setiap harinya. Juga berjeda tiga nafas sebagai antara dari satu kegiatan keseharian kita ke aktivitas keseharian yang lain. Dan juga berjeda dengan berjarak dengan sambil, memilih satu dengan keparalelan kegiatan, yang bagi sebagian didewa-dewikan atas nama efisiensi. 

Sambil adalah ketidakmampuan untuk memilih. Dan berjarak dengan sambil adalah menghormati pilihan. Sehingga makan hanya makan, tidak sambil melihat gawai kita, sehingga menjawab surat elektronik (email) tidak sambil makan, dan lain sebagainya. Sederhana saja, kitapun tak mau menjadi obyek sambilan dari orang lain ketika orang tersebut sedang bersama kita kan?  

Berkesadaran juga mengajak kita untuk berjalan lebih dalam. Kita menghormati pilihan kita karena itulah perilaku yang pertama kali, dan sekaligus terakhir kali. Pertama kali karena semuanya selalu baru, dan terakhir kali karena kita tak pernah bisa mengulanginya lagi di situasi dan kondisi yang persis sama.

What Mindfulness Is Not

To be aware of this whole process of existence, to observe it,
to dispassionately enter into it, and to be free of it, is meditation.
~ Jiddu Krishnamurti, Book of Life

As mindfulness practice has become some sort of a new life style nowadays, we see the practice being attached to various activities and events. When the word is being very loosely applied to almost anything, it can be rather confusing. Indeed, Mindfulness is a curious something that is rather delicate to describe, especially to those who try to learn about it on a cognitive level.

portrait-317041 - Image by 192635 at Pixabay
Image by User 192635 at Pixabay

Nevertheless, there are a few things that Mindfulness is definitely NOT. Below are a few of them.

Mindfulness is Not about being happy-stress-free All the time.

While Mindfulness practices have been found to be significantly beneficial in alleviating stress, it is not about stress reduction. The practice of Mindfulness trains us to accept things as they are, not by changing our thoughts or feelings about a certain thing or occasion, but by not identifying ourselves with any unwelcome thoughts or emotions. Freedom from identification helps us to see the problem for what it is, that we can understand it properly and act from a place of wisdom.

This is the essence of the practice. Stress reduction is a very welcome bonus.

Mindfulness is Not a practice to free the mind from thoughts.
It is not uncommon to perceive mindfulness as a practice where one attempts to empty one’s mind from any thoughts, resulting in blank zombie like state.

Thought formations, mainly our responses to external objects or internal memory, are present almost all the time in the mind. With mindfulness practices, we learn to not react unnecessarily to each and every stimuli. This results in less thought formation, less fluctuations in the mind, a state which is experienced as calmness.

Such state of mind is a result of regular practice. It does not happen overnight, nor does it happen with a simple intention of emptying the mind.

Mindfulness is Not about sitting crossed legged for hours.
Despite sitting meditation being the core practice of Mindfulness, the practice is not only about it. Sitting meditation, when performed regularly and “properly”, would rest the mind. Once the mind is rested, it is still a mindfulness practice as important as sitting meditation to be mindful of our body, breaths, thoughts and feelings as we go around fulfilling our daily activities.

In the midst of challenges and problems, it is also just as important to mindfully choose our actions and actually doing them. Being calm allows us to be more open to different solutions, but it is not the solution in and of itself.

Mindfulness can Not be reduced to being aware or conscious.
We are generally conscious all the time, with objects in mind, unless we are no longer alive, or perhaps, in a coma. In this case, very few people, if not none, can say they are mindful in all their conscious moments. Therefore, Mindfulness is not about being conscious.

Meanwhile, being aware is whenever we are aware of a certain thing, be it sound, sight, smell, taste or sense. Not all these awareness are Mindful awareness. For example, we can be aware that we are planning to harm ourselves or others and proceed on doing it, all the while being aware of doing it. This is not Mindfulness either.

With Mindfulness practice, we learn to be aware of the intention, of the desires or fear or aversion that propel the intention, and not being driven by them.

“Mindfulness requires a thoroughgoing equanimity. This does not mean you don’t care or are indifferent to what is happening, only that the mind is evenly balanced and fully aware of things exactly as they are, without the desire to change them by favouring one thing or opposing another.” ~ Andrew Olendzki PhD, What Mindfulness Is (Not)

Having said all the above, this article does not aim to strictly define Mindfulness. Words, more often than not, have many limitations. Have a go, and define Mindfulness as per your unique first hand experience.