Still Point

“At the still point of the turning world. Neither flesh nor fleshless;
Neither from nor towards; at the still point, there the dance is,
But neither arrest nor movement. And do not call it fixity,
Where past and future are gathered. Neither movement from nor towards,
Neither ascent nor decline. Except for the point, the still point,
There would be no dance, and there is only the dance.”

T.S. Eliot.

Senantiasa Berada

headphones-3021221 listen at Senantiasa Berada at Eudaimonia

 

Senantiasa Berada adalah kondisi yang kita pilih secara sadar dan diizinkan.

Senantiasa adalah kondisi berkesinambungan, proses terus menerus, untuk menuju Diri Sejati, di setiap momen, waktu dan tempat yang dianugerahkan.

Senantiasa tercermin dalam jernih berupaya, tanpa mengharuskan;
Senantiasa tercermin dalam jernih berserah, tanpa bermalasan;
Senantiasa tercermin dalam jernih bernalar, tanpa mempertanyakan,
Senantiasa tercermin dalam jernih merasa, tanpa larut dalam perasaan,
Senantiasa tercermin dalam jernih mencintai, tanpa perlu memiliki.

Ada menyiratkan kesengajaan yang tulus untuk hadir di waktu dan ruang yang dianugerahkan.
Ada bermakna peka untuk membaca rasa yang dihadirkan dan pesan yang disabdakan.
Ada mencerminkan hidup, bukan untuk sekadar menghidupi diri, namun menghidupkan untuk dan bersama, yang lain.
Ada berkonotasi bersiap, untuk belajar, berlatih, beriterasi, dan berserah dalam hening, nalar, dan gerak, tanpa perlu kecewa ketika bersiap tampak sia-sia.
Ada menunjukkan hidup dengan apa ada adanya, dengan jujur yang terjaga.
Ada memantulkan sikap bahwa semuanya sudah ada, karena semuanya sudah cukup, semuanya sudah baik.
Ada tidak sibuk mencari eksistensi, namun memanfaatkan eksistensi.

Senantiasa Berada terjaga dan termanifestasi dalam tiga sikap: Amati, Alami, dan Asah, yang saling melingkupi dan saling melengkapi.

Semuanya sudah ditetapkan.
Semuanya sudah dicukupkan.
Semuanya sudah selesai.
Bagi yang Senantiasa Berada.

Amati ~ Alami ~ Asah ~