Asah

Berkesadaran memerlukan Amati dan Alami. Keduanya, perlu kita Asah.

Gambar oleh Yoann Boyer dari Unsplash

Orang yang menyebut dirinya berpengalaman sebenarnya adalah orang yang menyadari keberadaannya. Ia senantiasa mengasah amati dan alami. Ia mengasah kepekaan, keterjalinan, dan kearifan dalam mengamati dan mengalami. Ia berkesadaran di setiap waktu, tempat, dan perannya. Pengalaman, bukan peristiwa dari masa lalu – ia adalah kondisi di setiap momennya. 

Agar kita benar-benar mengasah amati dan alami, kita memerlukan kepekaan – sikap untuk menyadari kondisi keberadaan dalam bentuk sensasi yang dialami melalui nafas, tubuh, pikiran, dan perasaan. Tanpa mengasah amati dan alami, maka yang bisa  terjadi adalah ketidakpekaan – ketidaktahuan kita akan perubahan ritme nafas kita, sensasi yang terjadi di tubuh, serta pikiran dan perasaan yang masuk. 

Ketidaktahuan ini, akan terjadidalam keseharian kita. Kian kita tidak peka, kian kita tidak sadar bahwa sikap, tutur, interaksi maupun keputusan yang kita ambil tidak jernih terjadi. Rasa kesal kita terhadap satu peristiwa, dapat mempengaruhi sikap kita terhadap orang lain yang tak ada hubungannya dengan peristiwa tersebut. Atau rasa bahagia kita terhadap suatu momen, dapat menjadi euforia yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan kita di situasi yang tidak ada hubungannya

Dengan melatih kepekaan, kita berlatih memilih respon kita dengan lebih jernih, di setiap momennya

Tentunya kepekaan tidak berarti sensitif dalam makna yang sering kita pergunakan dalam keseharian. Sensitif – biasa dikatakan sensi –  dalam makna keseharian adalah kita jadi larut dalam kondisi, sehingga mudah tersinggung dan memberikan ekspresi yang tidak perlu. Dengan berlatih kepekaan, yang terjadi adalah yang sebaliknya, kita menyadari akan obyek-obyek yang hadir ke dalam keberadaan kita, sehingga bisa memilih mana yang perlu ditindaklanjuti, mana yang dibiarkan hadir untuk berlalu. 

Kepekaan-kepekaan ini kita asah, bukan saja untuk menyadari keberadaan kita di setiap momen, namun membantu kita untuk membawakan diri kita dalam kehidupan ini. Sehingga misalnya, kepekaan yang terasah melalui latihan, akan membantu kita menyadari passion dan purpose, termasuk tidak melekat dengan passion dan purpose kita. 

Kepekaan tidak terbatas pada keberadaan sendiri. Ia juga berarti jernih melihat situasi di luar keberadaan kita, orang-orang di sekitar kita, obyek di sekitar kita, ingatan kita, dan cara kita melihat ke depan. Lebih jauh lagi, kepekaan akan menyadari bahwa kita dan sekitar kita tidak terpisahkan.

Sadar dan Berpikir

Secara neuroscience, otak kita selalu aktif (intrinsic brain activity). Ia secara otomatis bekerja ketika nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan cukup, dan menariknya, proses ini tak selalu memerlukan stimulus dari luar*

Namun demikian, Berpikir tak berarti Sadar. 

Gambar oleh Prottoy Hassan dari Unsplash

Sadar merupakan kondisi di mana kita melihat dan mengalami segala sesuatunya seperti apa adanya. Pada saat berpikir, seringkali kita menanggapi banyak hal dengan beban masa lalu, dan menolak apa yang ada. Berkesadaran adalah berlatih dan berserah dengan berjarak dari pikiran, karena pikiran kita bukanlah kita. 

Menyelesaikan masalah dalam kondisi tidak Sadar misalnya, bisa berarti menjaga nama baik kita, atau menyembunyikan kita, atau tujuan lain yang sebenarnya tidak menyelesaikan masalah. Terkadang, bahkan menambah masalah itu sendiri. Dalam contoh tadi, peran ego sangatlah kental. Ego, kesayaan, atau keakuan, memang senantiasa melingkupi kita. Dengan Berkesadaran, kita berlatih peka akan kehadiran ego tersebut, sehingga jernih menyikapinya. 

Tentunya ini tidak berarti kita tidak boleh berpikir. Pikiran senantiasa datang dan pergi, Berkesadaran membantu kita untuk menyadarinya, karena tidak semua hal memerlukan pikiran. Menikmati teh di sore hari, mengapresiasi musik, ataupun merasakan mentari di pagi hari, adalah beberapa contoh nyata yang tidak membutuhkan pikiran. Bahkan ada juga proses yang ketika kita berpikir, kita sulit melakukannya, misalnya ketika kita perlu tidur. 

Bisakah kita berpikir ketika perlu, di mana pikiran adalah pembantu, dan bukan penentu. 

Berkesadaran melatih kita untuk peka akan hadirnya pikiran, menyadarinya, dan menerimanya, tanpa menggenggam, tanpa menghempas. Dalam aktivitas keseharian, Berkesadaran akan membantu kita untuk memilih mana pikiran yang perlu diakui kehadirannya tanpa melakukan apapun, mana yang perlu ditindaklanjuti segera, mana yang bisa ditunda, mana yang perlu dilengkapi, mana yang perlu diverifikasi, dan sebagainya. Kita tidak serta merta bereaksi terhadap semua pikiran yang hadir. 

Kemampuan ini akan tertempa, seiring kian giat kita berlatih Berkesadaran.

*  Barrett, L. F. (2016). How emotions are made: The new science of the mind and brain. Place of publication not identified: Houghton Mifflin Harcourt.

Amati Alami

Kita senantiasa dianugerahkan kondisi, dan semua kondisi tidak pernah bisa sepenuhnya kita pilih. Yang perlu kita lakukan adalah menyadari kondisi ini, dengan cara mengamati dan mengalami. Parameter sederhana dari kondisi keberadaan kita adalah nafas, tubuh, perasaan, dan pikiran. 

Gambar oleh Chris Yang dari Unsplash

Dengan Berkesadaran, kita mencoba untuk mengamati seapa-adanya, bukan seadanya. Amati tanpa dipikir-pikir, dianalisa, diberi label atau dicari penyebabnya. Kita mengamati tanpa larut di dalamnya, tapi juga tidak mengidentifikasikan keberadaan kita terhadap apa yang sedang muncul dan terjadi.

Dengan Berkesadaran pula, kita mencoba untuk mengalami dengan jernih.  

Semua cara pandang dan pola pikir kita, biasanya terbentuk dari kondisi dan pengalaman masa lalu. Hal ini cenderung menyebabkan distorsi dari kenyataan yang sesungguhnya, dan bahkan memberikan arti tambahan, yang sebenarnya tidak ada, pada pengalaman kita. Dalam Berkesadaran, kita menyadari pola-pola ini, dan berlatih untuk mengamati dan mengalami segala sesuatunya tanpa kebiasaan cara pandang serta pola pikir yang sudah menjadi bagian dari persepsi kita.

Selain itu, apa yang biasanya kita lihat dan kita pikirkan, bisa jadi merupakan apa ingin kita lihat dan ingin kita pikirkan. Nah, yang ‘ingin-ingin’ ini, bukan berbasiskan kebiasaan masa lalu, namun ekspresi akan pengharapan ke masa depan. Peka akan hadirnya keinginan, dan bahkan keharusan, juga merupakan pola yang perlu kita sadari dalam Berkesadaran.

Berkesadaran akan membuat kita peka akan hadirnya ego untuk kedua hal diatas: distorsi akibat kemelekatan dari masa lalu dan masa depan. 

Berkesadaran dapat kita lakukan melalui latihan Duduk Diam dan melalui seluruh sikap kita dalam keseharian, sesuai dengan peran, saat, dan tempatnya.  Lakukan latihan Duduk Diam ini secara rutin, di setiap hari. Jika memungkinkan, dapat dilakukan di tempat yang sama dulu, dengan durasi yang sama, untuk membantu membangun kebiasaan.

Sadar & Berkesadaran

Gambar oleh Maxime Valcarce dari Unsplash

Sadar sering diasosiasikan dengan bangun. Namun Sadar bukan sekadar bangun, karena bisa saja ketika kita bangun, kita tidak menyadari apa yang kita alami. Pernahkah kita pergi ke tempat yang sering dikunjungi, kantor misalnya, namun kita tidak mengalami apapun dari jalan-jalan yang kita lalui? Itulah bangun, yang tidak sadar. 

Sadar juga sering dikonotasikan dengan berpikir. Kalau kita berpikir, berarti kita sadar, demikian pendapat sebagian dari kita. Sadar bukanlah kondisi ketika kita mampu berpikir, karena sebagian besar pikiran adalah hasil dari kemampuan otak untuk melakukan prediksi atas apa-apa yang pernah kita alami sebelumnya. Itu sebabnya autopilot menjadi jauh lebih mudah, dan itu pula sebabnya kita sering memberikan label yang baku kepada sifat maupun kemampuan orang lain, walaupun orang tersebut bisa saja sudah berubah. Kondisi yang memberikan praduga berdasarkan pengalaman masa lalu ini adalah contoh sederhana berpikir yang tidak disadari. 

Sehingga Sadar bukanlah bangun, bukanlah berpikir. Ia adalah sebuah kondisi, dan semua kondisi adalah anugerah. 

Sebagai anugerah, Sadar bukan hasil upaya. Ia bukan sesuatu yang bisa kita buat metodenya dan memberikan jaminan bahwa ia akan bisa tercapai kalau metode itu kita lakukan dengan baik dan benar. Dengan kata lain, Sadar bukan hasil transaksional, karena memang tak bisa dihitung-hitung. Kondisi Sadar selalu diberikan, bukan dipastikan. 

Untuk memudahkan memahami konsep ini, mari kita lihat sehat. Sehat adalah kondisi. Namun ia tak pernah bisa dipastikan. Semua olahragawan bisa dan pernah sakit, banyak ahli nutrisi pernah jatuh sakit, dan semua yang bergaya hidup sehat, tak luput dari kondisi tidak sehat. Ya, sehat adalah kondisi – sesuatu yang tak bisa dipastikan, ia hanya bisa didekati. 

Seperti halnya  sehat, definisi kondisi Sadar tak terbatas dan tak pernah definitif. Sadar adalah anugerah yang hadir tanpa memerlukan sebab. Sadar tak bisa diceritakan dengan lengkap oleh kata, tak bisa digambarkan secara menyeluruh oleh lukisan, dan tak bisa dideskripsikan secara total melalui nada. Definisi paling dekat yang sedikit menggambarkan Sadar adalah kondisi yang dialami dengan seapa-adanya. 

Seapa-adanya merupakan anugerah tanpa transaksi. Sepi dari persepsi. Senyap dari yang sudah. Sunyi dari yang belum.Tak melekat pada apapun. Hanya murni berada.

Sadar bisa didekati, walaupun – sekali lagi – tak pernah bisa dipastikan pencapaiannya. Mendekati sadar adalah dengan melalui Berkesadaran. Kata ini bukan kata baku dalam bahasa Indonesia, namun ia menggambarkan proses berlatih dan sekaligus berserah untuk mencapai kondisi Sadar. Dalam istilah yang lebih populer, Berkesadaran dikenal sebagai Mindfulness

Berkesadaran memiliki dua proses yang berjalan sekaligus. Ia menunjukkan upaya berlatih, yang memerlukan ketekunan, dan membutuhkan pola-pola tertentu. Namun ia juga sekaligus menunjukkan keberserahan, karena upaya berlatih ini bukan untuk memastikan, namun dilakukan dengan segala kerendahan hati untuk tanpa pamrih. 

Berkesadaran adalah perjalanan, yang panjang pendeknya tidak bisa kita ketahui saat ini, dan memang bukan untuk diketahui. Perjalanan ini adalah perjalanan mengalami. Mengalami dengan jernih seapa-adanya, namun tak pernah seadanya.